
BAGI semua orang tua, pendidikan adalah hal paling penting bagi anak.Sebab dengan pendidikan, orang tua sudah memberikan bekal bagi anak-anak untuk kelangsungan hidup di masa depan.
Namun ternyata, tidak sedikit orang tua yang masih kebingungan dengan problem biaya pendidikan anak-anak yang tidak cukup terjangkau. Akibatnya, tak jarang bila kemudian tak sedikit pula anakanak tak mendapatkan pendidikan sebagaimana harusnya.
Memang, pada sebagian orang tua, ada yang tetap bersikap “nekat” untuk terus memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.Hanya risikonya, mereka memang harus betul-betul banting tulang dan mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk biaya pendidikan anak-anak mereka. Fenomena “kebingungan” hampir sebagian besar orang tua tentang biaya pendidikan anakanaknya tak lepas dari semakin mahalnya biaya pendidikan dari hari ke hari.Sementara tingkat kebutuhan terhadap pendidikan sendiri tak bisa diabaikan mengingat masa depan yang membutuhkan kompetensi lebih tinggi.
Namun, kebingungan seperti demikian,sewajarnya tak lagi menjadi problem bagi sebagian besar orang tua. Sebab, masalah pendidikan anak-anak bisa disiasati sejak dini sehingga tak perlu lagi setiap orang tua alami kerepotan luar biasa saat anak-anaknya menempuh pendidikan. Bahkan orang tua juga bisa mengarahkan pendidikan anakanaknya sesuai harapan.
Sebut misalnya kuliah pada jurusan yang memiliki prospek cerah, namun menuntut biaya sangat tinggi atau bahkan kuliah ke perguruan tinggi bonafide di luar negeri. Semua hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan setiap orang tua,menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi dengan lebih berkualitas.
Tinggal bagaimana para orang tua bisa memanfaatkan strategi pembiayaan pendidikan anak-anak secanggih mungkin. Para orang tua sangat mungkin menyiasati kebutuhan biaya pendidikan anak-anak karena saat ini mereka bisa memanfaatkan berbagai instrumen tabungan berbasis proteksi atau lazim dikenal asuransi pendidikan.Dengan asuransi pendidikan, para orang tua bisa mempersiapkan pembiayaan pendidikan anak-anaknya di masa mendatang.
Perencana Keuangan dari Mike Rini & Assosiates, Financial Counselling & Education Mike Rini Sutikno menyatakan,biaya pendidikan di dalam negeri bisa dikategorikan sebagai investasi yang mahal. Karena itu, diperlukan perencanaan keuangan yang baik bila ingin memberikan pendidikan terbaik bagi setiap anak-anak.
“Untuk itu, sebaiknya (setiap orang tua) merencanakan dana pendidikan sejak dini. Dana pendidikan bisa mulai dipikirkan serta disiapkan sejak anak lahir dengan menyisihkan sebagian pendapatan rutin tiap bulannya atau pada waktu tertentu secara rutin,” jelasnya.
Salah satu langkah yang bisa ditempuh setiap orang tua adalah membeli produk asuransi yang mengandung unsur tabungan atau asuransi pendidikan. Selain memberikan penjaminan atas risiko, produk ini juga memberi keuntungan penggunaan sumber pendanaan bila waktu yang direncanakan tepat atau ada risiko yang muncul di tengah “perjalanan”.
“Biasanya model ini digunakan bagi keluarga yang memiliki risiko tinggi, sebut saja orang tua dengan pekerjaan tingkat kecelakaannya lebih tinggi,” jelasnya.
Perencana dan Konsultan Keuangan Wiwit Prayitno menyatakan, asuransi pendidikan menjadi jawaban atas persoalan kebutuhan biaya pendidikan yang berkualitas. “Untuk mencapai itu, kita perlu dengan cermat merencanakan keuangan dari sekarang,” ujar Wiwit. Wiwit menuturkan, kebutuhan asuransi pendidikan juga menjadi hal mutlak mengingat anak-anak bakal dihadapkan pada situasi yang menuntut kompetensi tinggi.
Terlebih saat ini, penerimaan jenjang pendidikan juga terus meningkat. “Sekarang lulusan SD atau SMP (misalnya) bukan nilai mahal lagi, lulusan SMU sekarang sama saja lulusan SMP dulu. Lulusan SMU dulu,sama saja lulusan S-1 sekarang,apalagi lulusan S-1 sekarang jumlahnya sudah banyak,” katanya.
Menurut Wiwit, ada beberapa alasan tentang perlunya mengikuti program asuransi pendidikan. Di antaranya, memastikan ketercukupan biaya pendidikan anak sesuai rencana, menentukan universitas pilihan, mendorong kedisiplinan dalam menabung, dan sebagai sarana investasi dengan mendapat bagi hasil (return) yang tinggi.
“Semakin dini semakin baik, semakin banyak dana terkumpul, semakin besar jaminan kepastian pendidikan anak tertata dengan baik, semakin ringan setiap orang tua menjalankan kewajibannya,” paparnya.
Wiwit menambahkan, produk asuransi pendidikan memiliki dua manfaat (dwiguna) sekaligus. Kedua manfaat tersebut,yaitu fungsi proteksi dan fungsi investasi.
Dengan fungsi proteksinya, produk asuransi tersebut menanggung risiko pertanggungan jiwa seperti kematian orang tua, yakni dengan menjanjikan sejumlah uang tertentu bila si orang tua meninggal di tengah jalan.
Tentunya, uang pertanggungan disesuaikan dengan biaya pendidikan anak dan sudah disepakati di dalam polis. Sedang sebagai investasi, asuransi bakal mengelola dan menginvestasikan sebagian premi yang dibayarkan dengan kompensasi berupa sejumlah dana hasil investasi dalam besaran dan jadwal pemberian sesuai kontrak.
Ini dilakukan agar manfaat diberikan sesuai dengan masa sekolah si anak. Dari sisi tarif, katanya, polis asuransi juga bisa dibayar sesuai dengan tingkat kemampuan dan keinginan masing-masing orang tua. Hanya disarankan agar pembayaran premi dilakukan dalam jumlah nominal yang diperkirakan bisa cukup memadai kebutuhan pendidikan si anak.
Sebut misalnya, si orang tua berencana menabung per bulan senilai Rp1 juta atau Rp12 juta dalam setahun untuk membiayai pendidikan anaknya –sebut misalnya Bayu– yang saat ini berusia dua tahun.

0 komentar:
Posting Komentar